Rabu, 01 Juli 2020

Mengenal Edmodo

Wabah virus corona meluas, demikian tajuk yang menghiasi program-program news di televisi maupun media cetak belakangan ini. Bagaimana tidak, mulai bulan Desember 2019 sampai sekarang dunia sedang dihebohkan dengan virus corona yang mengancam keselamatan nyawa manusia. Setiap hari yang terinveksi virus ini terus bertambah mulai dari anak-anak, remaja sampai orang tua bahkan korban jiwa yang meninggal dunia sudah mencapai puluhan ribu orang.

Informasi sampai saat ini, belum ada vaksin yang bisa menghentikan penyebaran virus corona. Para ilmuwan terus melakukan penelitian siang dan malam, apa yang menyebabkan virus ini menyebar dengan cepat dan vaksin apa yang bisa menghentikannya. Dengan penyebaran yang cepat ini WHO menyatakan sebagai darurat global dan WHO mendeklarasikan wabah virus corona berstatus gawat darurat dengan nama Pandemi Covid 19.

Dengan wabah yang demikian dahsyat, tentu mempengaruhi tatanan kehidupan normal, semua terkena dampak yang luar biasa tidak terkecuali dunia pendidikan. Untuk menyikapi kondisi tersebut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mas Nadhiem Makarim (begitu sapaan akrabnya) mengambil sikap tegas dan kebijakan yang cepat yaitu dengan menghentikan pembelajaran di Sekolah diganti dengan belajar di rumah sampai wabah ini berakhir. Imbasnya UN SMA/SMK yang sudah di depan mata pun tak luput dari kebijakan ini dan diganti dengan Ujian daring (Dalam Jaringan) hal ini membuat semua lini harus siap beradaptasi secara cepat agar proses pembelajaran tetap berjalan dengan baik.

Begitupun saya sebagai guru di SD Islam Ar-Rahmat Weragati-Palasah-Majalengka. Saya benar-benar merasa terpukul dengan wabah ini. Akan tetapi sebagai makhluk yang berakal dan percaya kepada Allah SWT. bahwa dibalik semua musibah pasti ada hikmahnya. Ternyata benar sekali pernyataan tersebut dirasakan oleh saya sendiri. Dengan wabah ini kreatifitas mulai muncul, inovasi makin meningkat, serta semangat belajar semakin dahsyat didukung oleh teknologi semakin canggih dan mudah. Mungkin sebagian orang menganggap bahwa dengan wabah ini kita tidak bisa melakukan apa-apa ditambah dengan kebijakan pemerintah tentang lock down, PSBB, WFH, dll. tetapi saya mencoba memanfaatkan waktu luang serta memaksimlkan potensi dan kemudahan yang ada. Berbagai apilkasi yang mendukung terhadap pembelajaran seperti Google Room, Edmodo, Class Room, WAG, FB, IG, atau Youtobe ini sangat bermanfaat.

Salah satu aplikasi yang saya pilih ialah Edmodo yaitu sebuah aplikasi yang memungkinkan guru, siswa, dan orang tua berbagi konten, mendistribusikan kuis, tugas, dan mengelola komunikasi. Pada awalnya memang terasa berat karena pembelajaran tatap muka diganti dengan belajar dalam jaringan (Daring). Tetapi setelah dipelajari kemudian disosialisasikan kepada siswa dan orang tua, mereka merespon dengan baik dan mau belajar sekalipun kuota cukup menguras. Hal ini tidak seberapa dibanding dengan hasil yang didapat oleh putra-putrinya yaitu menjadi manusia pembelajar yang cerdas, kreatif, dan inovatif.

Saya menyadari bahwa pembelajaran secara daring akan membosankan jika dilakukan secara terus menerus. Apalagi dimasa pandemi yang belum bisa diprediksi sampai kapan berakhirnya. Maka, pembelajarannya saya kemas dengan berbagai alternatif supaya anak-anak tetap di rumah, belajar di rumah dengan senang hati. Diantaranya yaitu: Pertama, kita adakan kesepakatan terlebih dahulu dengan siswa dan orang tua agar visi dan misi kita seiring sejalan. Diantaranya waktu pembelajaran cukup dengan satu sampai dua jam perhari. Kedua, disela-sela pembelajaran kita sisipkan Ice breaking melalui video yang dicontohkan oleh saya sendiri untuk ditirukan oleh siswa. Harapan supaya anak tetap fokus dan konsentrasi setelah menyaksikan ice breakingKetiga, memberikan reward berupa nilai, tanda bintang, ucapan selamat bahkan dengan kuota. Hal ini sangat berdampak terhadap semangat belajar siswa. Keempat, dilakukan Quisioner tentang pembelajaran atau komunikasi langsung dengan siswa maupun orang tua tentang kendala yang dihadapi dalam pembelajaran daring ini.

Pada pembelajaran ke-5 dengan tema menjelajah angkasa luar dan subtema tokoh penjelajah angkasa luar, saya memberikan selembaran cerita fiksi yang di kirim melalui aplikasi Edmodo kemudian menugaskan siswa untuk membaca cerita tersebut dan supaya siswa mampu mendeskripsikan peristiwa yang dialami tokoh utama dalam cerita tersebut. Setelah itu diharapkan siswa juga dapat menceritakan pengalaman pribadi yang mirip dengan kisah yang dialami oleh tokoh dalam cerita secara lisan, tulisan, dan visual dengan percaya diri.

Pada aplikasi Edmodo ini semua fasilitas dan fitur-fiturnya sangat lengkap dan mudah sehingga ketika siswa dan orang tua diberi tugas untuk membaca teks, merekam hasil bacaannya, membuat video pengalamannya yang sesuai dengan teks yang diberikan, hali ini bisa dilakukan dengan mudah.

Setelah langkah-langkah pembelajaran dilakukan, dimulai dari pendahuluan, kegiatan inti, kemudian ditutup dengan kegiatan penutup. Nah, pada kegiatan penutup ini beberapa pertanyaan diajukan kepada siswa untuk mengetahui sejauh mana daya serap, perasaan, dan langkah yang akan diambil oleh saya untuk pembelajaran selanjutnya. Diantara pertanyaan itu ialah apa saja yang telah mereka pelajari?, bagaimana perasaan mereka belajar hari ini?, apa yang ingin Anda ketahui lebih lanjut?

Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka kita bisa mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan pembelajaran yang dilakukan pada tema 5 ini dengan menggunakan aplikasi Edmodo.

Ternyata hasilnya sangat memuaskan. Selain nilainya cukup bagus juga komentar dari salah satu siswi bernama Armylda sangat menggugah. Berikut pernyataan :”Saya senang sekali belajar melalui daring melalui aplikasi edmodo, selain saya bisa menyelesaikan tugas dengan cepat tentang membaca cerita fiksi, menuangkan tentang pengalaman saya yang berkaitan dengan cerita tersebut. juga saya lebih kreatif, dan tidak capek karena dilakukan di rumah. Sekalipun ada sich rasa jenuh dan kangen ke temen-teman tapi mau gimana lagi. Dinikmati saja.”

Inilah yang diharapkan oleh seorang guru. Selain pembelajaran berjalan dengan baik, juga anak merasa senang walaupun pembelajaran dilakukn melalui daring. Dan selanjutnya saya akan terus berinovasi supaya pembelajaran lebih menarik lagi dan hasilnya jauh lebih baik.

Setelah beberapa minggu belajar melalui daring, banyak sekali perubahan pada diri anak, orang tua, dan tentunya saya sendiri. Diantaranya pengerjaan tugas-tugas lebih cepat serta hasil nilainya pun bagus-bagus dan kita semua merasa puas. Berbeda ketika belajar luring (Luar jaringan) atau tatap muka berbagai alasan anak muncul ada yang lupa mengerjakan PR, ketiduran, terbawa oleh teman-temannya, dan lain sebagainya. Tetapi dengan aplikasi ini anak-anak “dipaksa” untuk disiplin waktu. Jika terlambat mengirimkan tugas maka akan ditinggalkan. Ini adalah konsekuensi.

0 komentar:

Posting Komentar